Sabtu, 20 Desember 2025

Still Here, Without a Map

Diposting oleh Naftalia Inacius di 02.16 0 komentar

Namaku Aya.

Saat aku menulis ini, usiaku 23 tahun. Aku perempuan kelahiran 2002. Aku menulis bukan karena hidupku sudah rapi, tapi karena hidupku terlalu penuh dan aku tidak tahu harus menaruh semuanya di mana.

Aku adalah anak ketiga dari tiga bersaudara, dan satu-satunya anak perempuan di keluarga. Papaku Y, mamaku L. Kakak pertamaku N, kakak keduaku E. Jarak usiaku tiga tahun dengan kakak pertama, dan dua tahun dengan kakak kedua. Sejauh yang aku ingat, aku bahagia lahir di keluarga ini. Aku tumbuh dengan rasa aman—ada mama, ada papa, ada rumah.

Aku tidak tahu bahwa rasa aman bisa benar-benar habis.


Hari Aku Dipanggil Keluar Kelas


Mamaku meninggal pada tahun 2017.

Saat itu usiaku masih 14 tahun. Aku belum ulang tahun. Aku baru sekitar satu bulan menjadi murid SMA.

Hari itu pelajaran matematika. Bu Titik mengajar seperti biasa. Aku duduk di bangku kelas dengan seragam baru yang masih terasa asing di tubuhku. Semuanya terlihat normal, sampai tiba-tiba Pak Ari, guru kesiswaan, masuk ke kelas dan berbicara pelan dengan Bu Titik.

Suasana kelas mendadak sunyi.

Tidak lama kemudian, namaku dipanggil. Aku diminta keluar kelas. Saat itu aku tidak merasa takut. Aku hanya bingung. Aku tidak tahu bahwa hidupku akan berubah di lorong sekolah itu.

Di luar kelas, Pak Ari menatapku lama, seolah sedang mencari cara paling pelan untuk mengatakan sesuatu yang tidak mungkin diterima siapa pun.

“Aya,” katanya,

“tenang ya.”

Kalimat itu justru membuat dadaku terasa tidak enak.

“Mama sudah nggak ada. Sekarang Aya siap-siap pulang.”

Aku tidak langsung mengerti. Kata-katanya terdengar, tapi tidak segera masuk ke kepalaku. Butuh beberapa detik sampai semuanya runtuh bersamaan. Aku menangis tidak karuan. Kakiku lemas. Aku jatuh terduduk di lantai sekolah.


Aku ingat rasanya sangat kacau.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku tidak tahu harus ke mana.


Hari itu aku pulang dari sekolah bukan sebagai murid SMA.

Aku pulang sebagai anak yang kehilangan mamanya.


Mama dan Rasa Sakit yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi


Sebelum mama pergi, ia sudah berjuang melawan kanker ovarium stadium 3 selama sekitar satu setengah tahun. Seiring waktu, kankernya menyebar menjadi kanker paru-paru stadium 4. Sejak itu, hidup kami perlahan berubah. Rumah sakit menjadi tempat yang terlalu sering kami datangi. Bau obat, suara alat medis, dan rasa cemas menjadi bagian dari hari-hari kami.

Mamaku harus dipasangi selang agar cairan yang memenuhi paru-parunya bisa dikeluarkan setiap hari. Setiap selesai kemoterapi, muncul luka di dekat pusarnya—lubang kecil yang berbau dan harus dibersihkan rutin. Papa yang selalu membersihkannya. Dengan sabar. Tanpa mengeluh. Aku melihat dari dekat bagaimana cinta bisa berbentuk perawatan yang sunyi.

Mamaku hanya sanggup menjalani enam dari delapan sesi kemoterapi. Rasa sakitnya terlalu dahsyat. Tubuhnya tidak kuat lagi. Kami tidak memaksanya. Kami memaklumi. Tapi di dalam hati, kami tetap berharap—meskipun harapan itu semakin rapuh.

Mamaku seorang hairstylist. Ia punya salon sendiri. Rambut adalah bagian dari hidupnya. Saat rambutnya mulai rontok karena kemoterapi, mama sendiri yang meminta dibawa ke barber dekat rumah. Ia ingin dibotaki saja. Aku duduk di sana menahan tangis. Papa berpesan agar kami tidak terlihat sedih di depan mama. Rambut mama jatuh ke lantai satu per satu, dan aku belajar menangis tanpa suara.

Sekitar setahun kemudian, rambut mama tumbuh kembali. Putih semua. Penuh uban. Ia tidak botak lagi. Ia bahkan sempat membuka salon lagi. Ada hari-hari ketika kami hampir percaya mama akan pulih.

Aku masih ingat suatu hari mama mengetuk pintu kamarku. Kamarku di lantai dua. Aku terkejut melihatnya berdiri di sana dan spontan berkata,

“Loh mama? Bisa naik tangga? Nggak capek? Ayo sini tiduran dulu.”

Saat itu aku berharap, tapi aku tidak berani menyebutkannya.

Setelah hari itu, kondisi mama kembali naik turun. Ia kembali ke rumah sakit pada hari Jumat. Dan pada hari Senin, mama tidak pulang lagi.


Aku berusia 14 tahun.

Aku belum ulang tahun.

Dan aku kehilangan mamaku.


Mungkin seharusnya aku merasa lega karena mama tidak sakit lagi. Tapi aku tidak. Yang muncul justru pertanyaan yang tidak sopan, tapi jujur:

kenapa harus aku, Tuhan?


Papa, Tubuh yang Pernah Habis, dan Kekuatan yang Dipaksa Ada


Papa selalu ada setelah mama pergi. Ia mengisi peran sebagai ibu dan ayah. Tapi jauh sebelum itu, papa sebenarnya pernah sangat sakit.

Sekitar tahun 2011, papa menderita kanker usus. Kondisinya parah. HB-nya pernah berada di bawah angka 2. Tubuhnya sangat kurus, seperti habis. Ia harus bolak-balik rumah sakit untuk transfusi darah dan albumin—istilah yang saat itu tidak benar-benar kupahami. Yang aku tahu hanya satu: papa terlihat lemah, dan aku takut kehilangannya.


Papa sembuh. Kami menganggap itu mukjizat.

Kami pikir kami aman.


Papa dan mama menikah sejak 8 Juni 1997. Dua puluh tahun bersama. Setelah mama pergi, papa berusaha terlihat kuat di depan kami. Tapi aku tahu ia sangat merindukan mama. Saat kami naik motor malam-malam, papa sering menunjuk langit dan berkata,

“Lihat, tuh. Mama di atas, bersinar.”


Aku tidak pernah menjawab. Beberapa hal terlalu berat untuk ditanggapi.


Papa, Aku, dan Kota yang Tidak Pernah Benar-Benar Pergi


Sebenarnya papa tidak rela jika anak perempuan satu-satunya ini harus pergi jauh, apalagi sampai kuliah di luar kota. Ia tidak pernah melarang keras, tapi aku bisa merasakannya—dari caranya diam lebih lama, dari caranya menghela napas sebelum menjawab.

Aku, seperti kebanyakan anak remaja, ingin mengejar mimpiku setinggi mungkin. Aku ingin keluar. Aku ingin mencoba hidup di kota lain. Di situlah sering terjadi tarik-menarik yang tidak pernah benar-benar selesai.


Papa mengalah.

Ia selalu mengalah.


Dan sekarang aku sering bertanya-tanya: apakah saat itu papa sedang belajar merelakanku, seperti aku yang akhirnya harus belajar merelakan kepergiannya.


COVID, Oksigen, dan Perpisahan yang Terlalu Sunyi


Juli 2021, papa meninggal.

Aku masih 18 tahun. Belum ulang tahun.


Saat itu pandemi COVID sedang ganas. Varian Delta. Papa bekerja di layanan publik. Suatu hari ada seorang ibu datang batuk-batuk dan dengan enteng mengaku COVID. Aku kebetulan ikut papa hari itu.


Kami pulang, mandi, membersihkan diri, berusaha steril. Tapi kami tetap positif.


Selama sekitar dua minggu, kami sekeluarga terpapar COVID. Kondisi papa memburuk. Ia sangat membutuhkan oksigen. Saat itu oksigen langka.

Aku dan kakakku, meskipun sama-sama positif, keluar setiap hari. Menyusuri puluhan kilometer demi tabung oksigen untuk papa. Tubuh kami lelah, tapi kami tidak punya pilihan.

Malam sebelum papa meninggal, ia berpesan ingin susu Ultra cokelat dan sarapan bubur ayam—bubur yang biasa aku dan papa makan bersama. Pagi harinya aku mencari oksigen dan bubur itu. Kami pulang sekitar jam tujuh pagi. Kakakku menyuapi papa, mengganti popoknya, membantu semuanya. Papa berkata,

“Makasih ya, de.”


Kami pamit tidur sebentar karena kelelahan.


Siang hari, papa sudah tidak bernapas.


Deg.

Rasa itu datang lagi. Lebih dahsyat.


Yang paling membingungkan, kondisi papa justru sempat membaik. Suaranya kembali besar. Napasnya lebih lega. Kami sempat berdoa bersama keluarga lewat video call. Aku sudah berpikir positif. Tapi keesokan harinya papa pergi. Setelah dites ulang, COVID kami sudah negatif.


Mengapa begini?

Mama dan papa pergi setelah kondisi mereka membaik.


Iri, Mati Rasa, dan Bertahan


Setelah semuanya terjadi, ada satu perasaan yang paling sering datang dan paling sulit kuakui: iri.

Aku iri melihat teman-temanku yang masih punya mama dan papa. Iri melihat mereka bisa menjalani hidup tanpa harus memikirkan segalanya sendirian. Iri pada hal-hal kecil yang dulu terasa biasa—pergi ke mall bersama mama, pulang ke rumah dan masih ada yang menunggu, masih ada yang bertanya apakah mereka sudah makan atau baik-baik saja.

Rasa iri itu sering datang bersamaan dengan rasa bersalah.

Karena seharusnya aku sudah ikhlas. Seharusnya aku sudah kuat. Seharusnya aku tidak terus membandingkan hidupku dengan hidup orang lain.

Tapi kenyataannya, aku masih sangat membutuhkan mama dan papa.

Aku membutuhkan mereka saat aku bingung menentukan arah hidupku. Saat aku takut gagal. Saat aku lelah dan ingin berkata, “aku capek,” tapi tidak tahu harus mengatakannya kepada siapa. Ada banyak keputusan yang seharusnya bisa kubicarakan dengan orang tua, tapi kini harus kutentukan sendiri—dengan ragu, dengan takut, dengan dada yang sering terasa sesak.

Perlahan, aku merasa mati rasa.

Seolah ada tombol di dalam diriku yang kutekan agar semuanya berhenti terasa. Aku tetap hidup, tetap menjalani hari, tapi tidak benar-benar merasakan apa pun. Hatiku kosong, tapi juga penuh. Sesak, tapi tidak bisa menangis.

Aku ingin menangis, tapi air mata tidak datang.

Aku ingin bercerita, tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Aku bertahan bukan karena aku kuat, tapi karena aku tidak punya pilihan lain. Aku menjalani hari demi hari seperti kewajiban, bukan keinginan. Bangun, hidup, tidur, lalu mengulanginya lagi. Tidak ada peta. Tidak ada tujuan besar. Hanya usaha untuk tidak jatuh sepenuhnya.

Di tengah semua itu, ada satu hal yang diam-diam terus menarikku untuk tetap berdiri:

aku ingin mama dan papa bangga padaku di sana.

Bukan bangga karena aku sukses.

Bukan karena aku hebat atau selalu benar.

Aku hanya ingin mereka melihat bahwa anak perempuan mereka tidak menyerah. Bahwa meskipun hidupku berantakan, meskipun aku sering bingung dan takut, aku tetap mencoba hidup dengan jujur. Tetap bertahan, meskipun tertatih.

Kadang itu saja yang menahanku untuk tidak benar-benar jatuh.

Di tengah semua kekacauan itu juga, anjing-anjingku menjadi satu-satunya hal yang konsisten. Aku punya enam anjing. Mereka menemani tanpa bertanya, tanpa menuntutku untuk baik-baik saja. Tahun 2024, Kuro meninggal. Lalu 19 Desember 2025, Shiro menyusul. Kehilangan mereka bukan hanya kehilangan anjing, tapi kehilangan penopang yang selama ini diam-diam menjagaku tetap berdiri.

Kehilangan itu membuka semua duka yang selama ini kutahan.

Tapi di balik semua rasa iri, mati rasa, dan lelah itu, ada satu harapan kecil yang masih kugenggam—meskipun sering kali hampir kulepaskan.

Aku ingin bahagia.

Bukan bahagia yang besar, bukan hidup yang sempurna. Aku hanya ingin hidup yang terasa sedikit lebih ringan. Aku ingin punya alasan untuk bangun tanpa merasa sesak. Aku ingin percaya bahwa semua ini tidak hanya tentang kehilangan.

Aku ingin diberi kekuatan.

Bukan untuk selalu kuat, tapi cukup kuat untuk menjalani hari ini, lalu hari berikutnya.

Aku tidak tahu apakah akan ada pelangi setelah hujan dalam hidupku. Tapi aku ingin percaya, kalau aku terus bertahan, suatu hari akan ada sesuatu—apa pun bentuknya—yang membuatku berkata, “ternyata aku tidak bertahan sia-sia.”

Untuk sekarang, aku masih lelah.

Tapi aku masih di sini.

Dan aku berharap, itu cukup untuk membuat mama dan papa bangga.

 

Naftalia's Blog♥ Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea